Register Now

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Add post

Add question

Ketidakpastian Itu Mahal

Kegundahan manusia dalam mencari hakikat keberadaannya di dunia.

Hal ini  dapat dilihat umpamanya pada perkembangan pemikiran manusia dalam memaknai realitas alam (kata Paul Levy) yang menjadi pusat perhatian para pemikir dan filosof sejak era Yunani kuno.

Gambaran kegundahan dan kegelisahan itu antara lain tampak pada ungkapan Democritos (470 – 370 sebelum Masehi) tentang realitas. Katanya: ” (Halus dan kasar, dingin dan panas, warna-warna, semua itu hanya ada dalam persepsi manusia dan bukan dalam realitas. Yang nyata ada adalah partikel-partikel yang tak berubah, atom-atom dan gerakan-gerakannya dalam ruang hampa)” – dikutip dari Bulletin de la Classe des Sciences, 5e serie, volume LXXIV, 1988-12, halaman 444.

Dua puluh lima abad kemudian, di awal abad 20, observasi Democritos itu dikumandangkan kembali oleh Paul Levy – matematisi pembongkar misteri distribusi normal – ia menegaskan bahwa “ (realitas, jauh lebih kompleks ketimbang yang dapat kita bayangkan. Zat padat, zat cair, sama sekali bukanlah apa yang kita endus melalui pemikiran)”.

Melalui alegori gua, Plato dengan sangat cantik mengilustrasikan sekelompok manusia yang terpisah dari realitas dan berada dalam dunia bayangan realitas.

Sesungguhnya dunia bayangan – sebenarnya penulis lebih suka menggunakan istilah proyeksi ketimbang bayangan – itulah tempat manusia hidup. Dari waktu ke waktu, melalui pikiran dan akalnya, manusia berupaya agar gap antara realitas dan bayangannya semakin sempit. Namun, pemikiran manusia memiliki tapal batas yang tidak mungkin ditembus (Plotinus 204- 270 dan Karl Jasper 1883-1969).

Manusia tidak akan mampu memasuki wilayah di seberang tapal batas itu, tempat di mana makna hakiki dari segala sesuatu bersemayam.

Mau tidak mau manusia angkat tangan tak dapat terus menembus batas tersebut dan berserah diri ke dalam pangkuan kekuasaan keyakinan. Sekelompok orang menamai wilayah itu ’dunia gaib’, wilayah teologi dalam kaitannya dengan transendensi.Dalam literatur, pergulatan mencari makna hakiki sudah dimulai oleh para filosof Yunani kuno lebih dari 3000 tahun yang lalu. Dunia modern mewarisi tradisi logika, rasionalisme, dan filsafat Yunani. Dengan logika, manusia mempertanyakan kesahihan intuisi.Contoh yang sangat baik mengenai hal ini tampak pada relasi antara intuisi dengan proses pembuktian matematika. Dengan filsafat, manusia bergerak melalui proses pemaknaan menuju kebenaran hakiki.

Filsafat sangat berkepentingan dengan upaya memahami bagaimana manusia dapat memahami realitas  di mana kita hidup.

Tulisan ini merefleksikan

  1. Sebuah pencarian makna ilmu kemanusiaan yang darinya diturunkan derivatif tentang perannya dalam mengelola ketidakpastian khususnya dan dalam membangun karakter manusia Indonesia umumnya.
  2. Diulas sekilas tentang ketidakpastian secara induktif.
  3. Berbicara sekilas tentang ilmu kemanusiaan.Refleksi tentang peran ilmu kemanusiaan dalam upaya mengembangan kualitas manusia Indonesia.
  4. Ilustrasi peran ilmu kemanusiaan dalam industri, bagian keenam berisi bahan renungan, dilanjutkan dengan penutup pada bagian ketujuh.

 

Suatu ketika, interaksi intelektual penulis dan Prof Emeritus Wiranto Arismunandar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 1998 dan Rektor ITB 1988 – 1998, sampai pada kesimpulan bahwa ketidakpastian itu mahal harganya.

Bermula dari obrolan tentang perjalanan beliau ke Cyprus Utara melalui Turki. Keluar dari Turki menuju Cyprus Utara tak ada masalah. Namun, tatkala kembali lagi ke Turki, timbul masalah karena visa masuk Turki dianggap sudah terpakai dan tidak berlaku lagi. Dari sini mulailah sesuatu yang tidak pasti terjadi dan harus dibayar dengan sangat mahal. Padahal dalam perhitungan, probabilitasnya kecil sekali hal itu terjadi.

Biaya sosial tertinggi yang harus beliau bayar adalah kecemasan. Dengan perhitungan dan persiapan yang seksama, kita dapat memiliki tingkat probabilitas yang tinggi bahwa sesuatu yang merugikan tidak akan terjadi.

Dalam bahasa manajemen, tingkat probabilitas yang tinggi sinonim dengan ‘di bawah kendali’. Di seberang tingkat itu, jelas probabilitasnya kecil, yang kita pegang adalah keyakinan. Keyakinan bahwa probabilitas yang kecil itu tidak akan membuat sesuatu yang tidak diinginkan benar-benar terjadi.

Pengalaman serupa dengan yang dialami Prof Wiranto pernah penulis alami tahun 2000. Penyebabnya adalah ketidakprofesionalan sebuah biro perjalanan yang mengurus perjalanan penulis ke Israel yang mengakibatkan penulis terdampar di Jordania. Selama terdampar itulah ketidakpastian hinggap, kecemasan muncul, dan berbagai pengeluaran menguras isi  kantong. Mahal sekali ongkos psikologis dan materi yang penulis bayar.

Ketidakpastian Itu Mahal.

Termasuk ketidakpastian dalam  memaknai segala sesuatu. Yang dimaksud, bukan ketidakpastian absolut yang umumnya berada dalam wilayah teologi untuk membahasnya tapi ketidakpastian probabilitas. Umpamanya, ketidakpastian dalam memaknai apa yang dimaksud dengan ilmu kemanusiaan. Metode ilmiah dapat mereduksi tingkat ketidakpastian tersebut. Dengan model mental atau seperti ini, teori probabilitas menjadi suatu ilmu yang bukan hanya diperlukan dan penting,  Namun juga menantang dan menggairahkan bagi para ilmuwan kemanusiaan yang ingin berusaha mengelola atau bahkan mengontrol  ketidakpastian.

Beda antara manusia dan kemanusiaan sama seperti beda antara meja dan kemejaan, antara benda dan kebendaan, antara raga dan jiwa. Yang disebut pertama menunjuk kepada materi dan yang kedua menunjuk kepada forma dari yang pertama. Manusia sadar betul bahwa satu-satunya musuh kemanusiaan adalah manusia. Oleh karena itu, ilmu kemanusiaan menjadi penting dipelajari agar manusia terhindar dari malapetaka kemanusiaan, dari kebangkrutan peradaban, demi kelangsungan hidup yang cemerlang dari di jagat raya. Akan tetapi, berbicara mengenai kemanusiaan tidak bisa terlepas dari pembicaraan tentang jiwa manusia yang menentukan penampakan perilaku raga manusia.

Jiwa adalah forma manusia tempat berpikir atau mengembangkan akal, tempat bersemayam penglihatan, pendengaran, perasaan seperti rasa takut, atau harapan. Di mana ada kesadaran intelektual, di situ ada jiwa. Jiwa dan raga mungkin saja memiliki dunianya masing-masing yang independen. Yang jelas, ada suatu harmoni yang membuat raga mengerjakan gerakan yang diinginkan jiwa. Ada komunikasi antara jiwa dan raga. Raga memahami bahasa jiwa dan jiwa memahami bahasa raga.

Ensiklopedi Wikipedia memberi-kan deskripsi ilmu kemanusiaan sebagai ilmu yang menunjuk kepada penyelidikan kehidupan manusia dan masyarakat melalui metode yang sistematis, rasional, dan dapat diverifikasi oleh siapa saja dan kapan saja berdasarkan data obyektif maupun subyektif. Dua kata ‘obyektif’ dan ‘subyektif’ menjadi salah satu ciri mandiri ilmu ini. Sebelum Karl Popper menulis , di dunia ilmuwan sosial, kata pertama tertimbun sangat dalam di bawah dominasi kata kedua. Setelah buku itu terbit, ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu kemanusiaan, meniru pendekatan ilmu-ilmu kealaman – sering disebut – dengan menekankan pada pentingnya observasi eksternal yang obyektif dan pada pencarian hukum-hukum yang bersifat universal dengan prosesnya dapat diprediksi berdasarkan kondisi awal eksternal yang bebas dari persepsi subjektif manusia.

Dalam tradisi filsafat Jerman, menunjuk kepada aplikasi metode ilmiah pada bidang-bidang di luar ilmu-ilmu kealaman dan meliputi bidang-bidang seperti filsafat, sejarah, psikologi, kesusastraan, ilmu sosial, ekonomi, ilmu politik, antropologi, geologi, pendidikan, ilmu manajemen, dan perawatan kesehatan.

Contoh yang sangat menarik, di antara sedikit contoh, adalah tradisi ilmu kemanusiaan di Perancis.

Di negeri , ilmu ini maju sejajar di baris terdepan bersama ilmu-ilmu lain. Kok bisa? Penyebab utamanya adalah basisnya yang kental dengan cita rasa kuantitatif. Benar-benar kental dengan pendekatan pemikiran matematik . tengok saja berbagai publikasi Musée de l’Homme yang sering sarat dengan kandungan matematik dan statistik tingkat tinggi. Matematik dan statistik digunakan sebagai pisau bedah analisis. Tidak tampak adanya perbedaan pendekatan dalam ilmu kemanusiaan dan ilmu kealaman.

Dan ini menyangkut kepekaan manusia-manusianya terhadap kehadiran ketidakpastian dalam setiap aspek kehidupan manusia.

Sebenarnya hal ini tidak mengherankan sebab mereka memiliki keyakinan seperti yang dikemukakan oleh Paul Valery: “ (tidak ada satu pun penyelidikan manusia dapat disebut sains bila tidak melalui pembuktian matematikal)”. harus diwujudkan, dipertahankan, dan dikembangkan.

Paul Valery adalah sastrawan dan budayawan ternama Perancis seangkatan Einstein. Dia kawan dekat Hadamard, seorang matematisi kenamaan Perancis yang merupakan sahabat kental Einstein. Dalam salah satu suratnya kepada Hadamard, Valery menjelaskan bahwa kreativitas dalam matematika tak ubahnya kreativitas dalam membuat puisi. Kepekaan seperti ini, yang merupakan ciri khas dunia akademik Perancis, dapat pula dilihat pada kurikulum fakultas sastra. Tahun 1977 penulis pernah memberikan tutorial Persamaan Diferensial Parsial bagi mahasiswa Fakultas Sastra l, Universitas Paul Valery, Montpellier, Perancis. Di ITB, mata kuliah tersebut diberikan bagi mahasiswa program Master. Fakta dan konstatasi Valery di atas tidak dapat dilepaskan dari paradigma kompleksitas suatu aktivitas ilmiah yang dicetuskan Descartes. Lebih empat abad yang lalu, Descartes memberi pesan bahwa:“ (eksperimen saja sudah cukup untuk membuat kita mengenal fenomena alami, dan bahwa begitu banyak yang harus diobservasi adalah fakta yang tak terbantahkan sehingga tidak mungkin dikerjakan seorang manusia dan menuntut adanya organisasi kolektif riset eksperimental)” Dan tingkat kebudayaan ditentukan oleh kompleksitas berpikir dan kompleksitas perwujudan hasilnya.

Di manakah letak peran ilmu kemanusiaan dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia?

Jawaban pertanyaan ini tergantung dari apa yang dimaksud kualitas dan sosok manusia Indonesia seperti apa yang diharapkan bangsa ini. Kedua terminologi ‘kualitas’ dan ‘sosok manusia Indonesia’ harus dipahami dahulu. Mungkin makna hakikinya tidak akan pernah kita tahu. Dalam hal ini, kesepakatan pun bolehlah. Kesepakatan untuk berpegang kepada yang tidak pasti. Mengenai sosok manusia Indonesia, kita mempunyai kesepakatan yang kita anggap terbaik pada saat ini. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Di dalam amanat tersebut terdapat begitu banyak yang harus dipahami oleh seluruh anggota masyarakat bangsa, seperti pendidikan, watak, peradaban, martabat, cerdas, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif. Jika dalam Undang -Undang itu belum dipahami atau disepakati maknanya, maka kita semua akan terjebak dalam ‘dunia gaib’ dan kita akan terpenjara di sarang ketidakpastian. Di sini tampak bagaimana ilmu kemanusiaan ditantang untuk memainkan perannya dengan cerdik dan cantik.

Bagaimana mengenai kualitas?

Sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa manusia dari waktu ke waktu berupaya terus meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya. Namun, secara ilmiah, baru pada dekade 1940-an masyarakat dunia memiliki definisi formal tentang kualitas. Tampak bahwa sesuatu atau seseorang yang memenuhi syarat – misalnya makanan yang memenuhi syarat untuk dikonsumsi atau seseorang yang memenuhi syarat menjadi anggota legislatif – belum dapat dikatakan berkualitas. Jadi, berbicara mengenai kualitas manusia Indonesia adalah berbicara tentang:

  1. Sosok manusia Indonesia yang diharapkan bangsa ini, seperti tertera dalam UU 20 Tahun 2003 di atas, yang masih memerlukan pemahaman seluruh anggota masyarakat bangsa;
  2. Upaya mendorong setiap anggota masyarakat bangsa agar mampu untuk sejauh mungkin melewati harapan itu.

Jelas, untuk kelangsungan hidup yang cemerlang , sederajat dengan bangsa- bangsa yang berbudaya intelektual, bangsa ini dituntut kerja keras dengan dedikasi yang tinggi kepada kualitas. Namun, kualitas hanya mungkin diraih melalui proses berfikir dan pengembangan akal dengan tingkat kompleksitas yang tinggi.

Mengapa harus memiliki dedikasi?

Karena dituntut berpikir bebas. Untuk ‘berada’  dituntut kebebasan berpikir, tidak tunduk kepada papun yang dapat mereduksi kebebasan itu. Henri Poincaré, tahun 1909, menekankan: “ (pikiran jangan pernah tunduk kepada dogmatisme, partai politik, kekuasaan, kepentingan kelompok atau perorangan, maupun kepada apapun yang tidak berdasarkan fakta sebab, bagi pikiran, tunduk berarti berhenti berada)”

Jangan lupa bahwa hidup adalah untaian pilihan-pilihan yang tergantung kepada kebebasan berpikir.

Dan – filsafat dan sejarah ada di dalamnya – menyediakan ruang  yang luas untuk  pengembangkan kebebasan berpikir.

Oleh karena itu, bagi penulis, adalah aneh bila perguruan tinggi tidak menyediakan pembelajaran filsafat seperti halnya pembelajaran agama bagi mahaiswanya. Dengan filsafat orang belajar berpikir baik dan jernih dan dengan retorika belajar berbicara baik dan jernih. Meledaknya pasar otomotif Jepang di Indonesia adalah suatu fenomena. Itu adalah contoh konkret bagaimana ilmu kemanusiaan, plus kreativitas, inovasi dan teknologi, menjelmakan kemakmuran dan kemaslahatan masyarakat. Mengapa Jepang merajai produk otomotif di Indonesia? Bahkan sampai mampu mematisurikan industri transportasi kereta api (KA). Begitu banyak jaringan rel KA yang dikubur hidup-hidup. Jembatan KA Leuwidaun yang megah, dengan latar belakang gunung Papandayan, melambangkan ikon kota Garut dengan kecanggihan teknologi transportasi yang pernah dimilikinya. Monumen kemegahan nilai-nilai budaya sains dan teknologi, yang diwariskan kepada Garut itu, sekarang berubah menjadi tempat jemuran pakaian dan prei. Selain itu, bukti bagaimana kemegahan nilai-nilai budaya sains dan teknologi transportasi dibunuh oleh gubuk atas nama kantor sekretariatsebuah organisasi, selanjutnya kuburan rel KA di Cibolerang, Kecamatan Karangpawitan, kemanusiaan.

Budaya seperti apakah yang di dalam diri masyarakat kita?

Ini adalah tantangan bagi para ilmuwan kemanusiaan. Kedua temuan inilah yang kemudian menjadi kunci sukses industri otomotif Jepang. Di tangan orang-orang Jepang, kebiasaan masyarakat Indonesia tersebut berubah menjadi raksasa bisnis dan tampaknya masih akan meningkat terus.

Di tangan kita, tradisi itu hanya sebatas nilai emosional. Diperlukan kerja keras untuk mengubah kultur dan paradigma hidup seluruh anggota masyarakat bangsa ini. Sekali lagi di sini, peran ilmu kemanusiaan ditantang. Sekitar awal tahun 1970 seorang dosen ITB, Ibu Iwang Sudiro, yang sedang tugas belajar di Australia merasa heran. Pada setiap undangan makan malam, jenis minuman orang Australia ditentukan oleh jenis menu makannya. Bila menunya ikan, minumnya anggur putih. Bila daging sapi, minumnya anggur merah jenis tertentu. Menu yang lain, lain lagi minumnya. Ibu Iwang bertanya-tanya keheranan sebab bagi orang Indonesia, apapun menu makannya, minumnya teh manis.

Keheranan tersebut kelak berubah menjadi bisnis teh botol yang sangat besar. Prof. Iwang Sudiro – penemu teknologi mengemas air teh manis yang tetap segar – di usianya yang sudah 76 tahun pada 1 Januari 2007 tinggal merasakan kenikmatan hidup dapat mewariskan, kepada generasi penerus bangsa, teknologi yang beliau lahirkan dari  tradisi masyarakat kita.

Beliau tidak hanya mewariskan  teknologi, tapi yang lebih penting adalah mewariskan semangat mencipta teknologi yang dipadu dengan kepekaan sosial. Beliau pun memberi contoh bagaimana paradigma Descartes niscaya dibangun di antara ilmuwan berbagai disiplin, bagaimana ilmuwan kealaman dan ilmuwan kemanusiaan harus bekerja bersama membangun sinergi.

Dalam sebuah diskusi di Majelis Guru Besar ITB penulis difahamkan bahwa kebangkrutan peradaban manusia diakibatkan oleh sains, teknologi, dan ekonomi yang tercerabut dari budaya. Tiga puluh tahun yang lalu, keadaan ekonomi Ghana tidak jauh berbeda dengan Korea. Tapi sekarang, Korea telah masuk dalam jajaran 15 besar negara maju, jauh meninggalkan Ghana. Jepang yang hancur lebur pada Perang Dunia II, tidak sampai 30 tahun kemudian telah menjelma menjadi negara maju. Mengapa?  Mereka memiliki yang ditopang oleh kebudayaan yang kondusif untuk menjadi pemenang. Mengapa pula GNP seluruh negara yang berpenduduk mayoritas muslim, apabila disatukan, jauh lebih rendah dari GNP negara Jerman?

Setiap tahun negara-negara berpenduduk mayoritas muslim tersebut hanya menghasilkan sekitar 500 orang doktor baru, sementara Inggris menghasilkan kurang lebih 3000 orang PhD baru. Apa yang kurang? Tampaknya,  perbedaan signifikan terletak pada , model mental, dan budaya intelektual.

Ini adalah masalah.

Begitu dominannya pengaruh budaya dalam pengembangan peradaban dapat kita lihat pada hasil kajian Universitas Harvard belakangan ini. Prof. Harry Lewis, yang pernah lama menjadi Dekan Harvard College, Harvard

University, tahun lalu menulis buku . Tampaknya dia ingin mengatakan bahwa sesuatu yang tidak benar telah berlaku pada pendidikan di Harvard. Bahkan dia menyimpulkan bahwa universitas, juga di luar Amerika, telah kehilangan “jiwa”. Kesimpulan ini dia angkat setelah mengamati universitas semakin berorientasi kepada pemenuhan tuntutan konsumen, tuntutan kerja jangka pendek.

Semakin tampak, universitas lebih memilih strategi memenuhi keinginan/selera pasar ketimbang membentuk karakter mahasiswa.

Menarik sekali menyimak konstatasi Lewis bahwa penurunan kualitas kehidupan masyarakat Amerika disebabkan para elit universitas telah melupakan pendidikan. Padahal universitas adalah lembaga di mana masa depan bangsa dipertaruhkan. Memang mahasiswa diberi kuliah dan ujian dengan sangat ketat dan keras. Namun, mereka sulit untuk menjadi bijak. Mereka lulus ujian dengan sangat baik. Tapi orientasi proses pembelajaran adalah untuk memenuhi tuntutan pasar jangka pendek dan bukan untuk bekal seumur hidup.

Indikator pendidikan yang baik tampaknya telah jauh bergeser.

Saat ini, pendidikan yang dipandang baik adalah yang dapat langsung memberikan pekerjaan. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi berpijak dan menopang nilai-nilai luhur dan idealisme. Pengamatan Lewis di atas tampaknya direspon oleh Harvard. Untuk menghidupkan kembali roh yang hilang, mereka berupaya untuk meng- kurikulum yang hasilnya diharapkan akan mampu:

  1. Mempersiapkan mahasiswa untuk memahami dirinya sendiri sebagai produk sistem nilai, kebudayaan, dan tradisi ilmiah;
  2. Membangun pemahaman mahasiswa tentang dimensi etika dari apa yang mereka katakan dan lakukan.

Sementara ini pusat perhatian mereka adalah pada bagaimana mengakomodasi materi – yang selama ini dipandang sebagai namun sangat berdampak panjang pada pembentukan karakter – seperti filsafat dan sejarah dalam kurikulum.

Kemampuan mempelajari, memahami dan memaknai segala sesuatu dalam kehidupan sadar sehari-hari adalah syarat mutlak bagi proses ‘mengada’.

Secara semantik, pemahaman berkaitan erat dengan kesadaran. Tepatnya, pemahaman berawal dari kesadaran.

Adapun kesadaran (kesadaran intelektual dan bukan kesadaran biologis) adalah  pengalaman yang menghubungkan materi dengan forma – seperti antara raga dengan jiwa – atau yang menghubungkan antara apa yang nampak menurut panca indera dengan apa yang hakiki. Bertolak dari pengertian kesadaran tersebut, dalam setiap proses pemahaman tentang segala sesuatu, maka kesadaran akan lingkaran epistemologis perlu menjadi bahan acuan. Lingkaran epistemologis adalah prinsip Aristoteles yang mengatakan bahwa: “Cara kita memahami sesuatu harus selaras dengan sifat sesuatu itu yang dapat disingkap melalui apa yang kita ketahui tentang sesuatu tersebut.” Namun, karena kompleksitas alam yang tak terbayangkan dan tingkat ketidakpastian makna yang tinggi, segala sesuatu dapat dimaknai berbeda tergantung ilmu apa yang digunakan untuk meneropongnya. Hanya dengan membangun sinergi antar berbagai bidang ilmu maka peran setiap bidang ilmu akan lebih signifikan dalam mereduksi tingkat ketidakpastian. Demikian pula dengan ilmu kemanusiaan.

Pendekatan yang lebih kuantitatif dan mendasar, yang telah dirintis Karl Popper, akan lebih mengokohkan ilmu ini. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Dewan Redaksi yang telah mengundang penulis untuk menyumbangkan tulisan ini. Demikian pula kepada para editor yang telah bekerja keras sehingga tulisan ini tersaji dengan sangat baik dan kepada anak kami Hariza Djauhari, mahasiswa FTSL ITB angkatan 2003, yang telah memberikan komentar dan kontribusi yang berharga terhadap tulisan ini.

 

Sumber : Prof. Maman Djauhari

 

Full text : https://www.researchgate.net/publication/313799279_KETIDAKPASTIAN_ITU_MAHAL_The_uncertainty_is_expensive

Baca Lagi Biar Pinter

About Riad Taufik LazwardiSweet

Lecturer of Mathematics at 1. Kalbis Institute | Managed by Binus (2018-now) 2. Telkom University (2017-2018) 3. UIN Bandung (2015-2018)

Follow Me

Leave a reply