Register Now

Login

Lost Password

Lost your password? Please enter your email address. You will receive a link and will create a new password via email.

Send Message

Add post

Add question

You must login to ask question.

Kenapa Kita Melakukan Ujian Saat Belajar?

Menurut Prof Cees Van der Vleuten, Professor of Education dari Maastricht University, Kita melakukan ujian karena ujian akan memandu siswa untuk belajar, “it drives students learning“.

Secara tidak sadar, ujian akan mendorong siswa untuk belajar. Mereka akan melakukan apa pun untuk lulus ujian. Namun, kita tidak menafikan bahwa ada beberapa kekurangan ketika ujan. Yaitu proses belajar yang tidak terlihat.

Prof Cees Van der Vleuten berkata, “Ada dua tipe ujian : Summative Assessment dan Formative Assessment. Summative biasanya berupa angka sedangkan formative biasanya feedback-oriented. Saya lebih suka menggunakan keduanya“.

Menurut Prof Jeroen Jansz, Professor of Communication & Media, Erasmus University Rotterdam, ujian akan membuat siswa ber-refleksi. Mereka bisa mengetahui apa saja yang sudah dipelajari dan dikuasai. Selain itu, sekolah bisa mengetahui tentang tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dengan dialkukannya ujian.

Manfaat lain dari ujian adalah siswa akan mengetahui apa yang harus dilakukan kemudian.

Menurut Emely Spierenburg, Educational Advisor, Erasmus Medical Center, ujian bermanfaat untuk mengetahui apa yang sudah siswa kuasai. Ujian adalah kesempatan mereka untuk show time.

K

Kita sebagai dosen ingin tahu apakah tujuan belajar sudah tercapai atau belum di akhir proses belajar. Oleh karena itu, dilakukan ujian“.

Dan apabila kita tidak melakukan ujian, kita akan menggunakan pengalaman sebagai alat ukur. Tentu ada kelemahan jika menjadikan pengalaman sebagai alat ukur, yaitu batasan dan kedalaman materi menjadi bias“.

Menurut Silvester Draaijer, Senior Policy Advisor, VU Amsterdam, ada beberapa manfaat daripada ujian. Pertama, memberikan informasi kepada siswa tentang apa saja yang harus mereka kuasai dalam waktu tertentu. Kedua sebagai panduan agar siswa bisa menentukan langkah yang efektif dan efisien untuk menguasai materi.

Ketiga, ujian dibutuhkan sebagai bukti bagi para stakeholder di pendidikan, misalnya perusahaan, negara, orang tua dan teman.

Banyak jenis dan ide tentang individual learning dimana siswa bisa memilih kapan belajar dan kapan ujian. Namun, untuk sistem yang kita miliki, kita masih menggunakan ujian yang didasarkan pada waktu belajar dan ujian yang sudah ditentukan.

Kapan Ujian Menjadi Tidak Berguna?

Ujian menjadi tidak berguna ketika siswa tidak ber-refleksi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan kemudian. Ujian juga menjadi tidak berguna ketika Guru “mengutuk” bahwa siswa tersebut tidak belajar atau tidak melakukan persiapan.

Tantangan?

Kita terkadang dihadapkan kepada kegiatan administrasi/akreditasi untuk menjaga standar kualitas. Yang mana kegiatan tersebut banyak memakan waktu hingga melupakan prioritas bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan siswa dan meng-unlock potensi mereka.

Solusi?

Sebagai Guru, kita sangat sibuk! Persiapan mengajar, memberikan feedback, melakukan riset, berorganisasi dan kegiatan di luar pekerjaan lainnya sudah memakan waktu bekerja. Dan memberikan ujian bisa menjadi hal yang membuat Guru frustasi dan depresi. Tidak salah bagi kita sebagai Guru untuk bertanya tentang rubrik penilaian, bagaimana meng-handle siswa yang low achiever, dsb sehingga ujian bisa tetap dilakukan tanpa mengurangi kualitas.

“Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka dia akan diberi-Nya cobaan.” (HR.Bukhari). “Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka

About Riad Taufik Lazwardiexcellent

"In the middle of difficulties lies opportunities"

Follow Me

Leave a reply